Si bola bekel

Saat membaca sebuah artikel berjudul “Kristen Bola Bekel”, yang saya persepsikan adalah kondisi kehidupan iman kita terhadap waktu. Kalau dibuat grafiknya akan muncul sinusoidal. Saat kita mendapat semuanya, kita merespoin dengan ucapan syukur atau lupa pada Sang pemberi. Saat kita menghadapi hal yang sulit, kita berespon bersungut atau malah datang dengan sendu pada Sang pemberi. Responnya tergantung dari hubungan kita dengan Sang pemberi. Jadi grafik sinusoidal atas kondisi dan respon tiap orang berbeda.

Namun, isi artikelnya tidak membahas tentang hal tersebut. Penulis menyatakan sebuah pernyataan bahwa kehidupan seseorang sampai mencapai posisi tinggi ibarat bola bekel melambung tinggi. Si penulis menyatakan bahwa seseorang yang berani dihempaskan dengan kerasa atau berani ditekan, sampai bisa terpental tinggi. Poin utamanya adalah orang yang mendapatkan kesukseksan, yang sudah hidup nyaman, sejahtera, senang, atau apapun yg (kita) lihat bahagia, pasti ada jalan atau lika liku yg dibalik semua itu.

Sekarang, siapa yang tidak iri kalau melihat orang dengan semuanya itu? Iri bisa terjadi bukan saat kita melihat hal yang besar diraih oleh kerabat, tetapi hal kecil juga.

Kuasailah dirimu,hatimu dan pikiranmu. Selalu bersyukur,selalu tersenyum, kamu akan mendapat bagianmu sendiri yang sudah direncanakan oleh Sang Pembuat cerita hidupmu.

Lalu, bagaimana kalau kita dihempas dan ditekan? Apa kita siap untuk mendapatkan semua kesuksesan tersebut?

“Inilah pergumulannya,kita ingin senang tetapi kita enggan pula direndahkan.”

 Artikel yang menarik bukan? Ada satu poin lagi yang saya pikirkan , bahwa bola yg dihempas dengan lemah atau keras suatu saat akan kembali turun. Siapkah kita turun lagi? Turun dari segala kesenangan itu? Semua hanya sesaat (detik/menit/jam/hari/minggu/bulan/tahun/dst) bukan? Nikmatilah dengan bijaksana yang dititipkan oleh Sang pemberi.

Iklan